Habibie membawa mimpi, anak bangsa yang mampu berdikari.
Teknokrat lain sempat mencaci, jika bisa impor mengapa harus bikin sendiri?
Meski lama bersekolah di luar negeri, dia pulang untuk membangun kembali.
Panutan perihal pendidikan, juga dalam hal pengabdian.
Sebagai pemimpin dia memberi visi, industri strategis harus dikelola sendiri.
Di tangan Habibie Indonesia seperti bernyali, siap mencuat dan berkompetisi.
Sebagai ayah & suami dia menyentuh hati, meriwayatkan cinta & kasih kinasih abadi.
Tak bisa dipungkiri Habibie meniupkan ruh demokrasi, di era reformasi yang penuh caci-maki.