Rabu, 05 Februari 2014

Catatan Najwa

Habibie membawa mimpi, anak bangsa yang mampu berdikari.

Teknokrat lain sempat mencaci, jika bisa impor mengapa harus bikin sendiri?

Meski lama bersekolah di luar negeri, dia pulang untuk membangun kembali.

Panutan perihal pendidikan, juga dalam hal pengabdian.

Sebagai pemimpin dia memberi visi, industri strategis harus dikelola sendiri.

Di tangan Habibie Indonesia seperti bernyali, siap mencuat dan berkompetisi.

Sebagai ayah & suami dia menyentuh hati, meriwayatkan cinta & kasih kinasih  abadi.

Tak bisa dipungkiri Habibie meniupkan ruh demokrasi, di era reformasi yang penuh caci-maki.

Sumpah B.J Habibie

Sumpahku

"Terlentang! Jatuh! Perih! Kesal!Ibu pertiwi engkau pegangan. Janji pusaka dan sakti. Tanah tumpah darahku, makmur & suci. Hancur badan, tetap berjalan. Jiwa besar & suci membawa aku padamu. Padamu Indonesia makmur & suci".

Sabtu, 01 Februari 2014

Lemah

"Terhitung mulai detik ini aku melangkah keluar dari kehidupanmu".

Sudah berapa ratus kali aku meyakinkan diriku untuk melakukan itu? Ck, tapi tetap saja berapa kali pun aku berucap berkali-kali pun aku melanggarnya. Itu sulit, terlalu sulit! Ketika aku sudah benar-benar jenuh dengan semuanya dan ketika aku sudah meyakinkan diriku untuk melakukannya. Saat itu pula kau kembali 'lagi' dengan secercah harapan. Pugar yang ku bangun kokoh seketika itu pula hancur tanpa sisa. Aku terperdaya, terlalu terperdaya olehmu. Untuk marah pun aku tak bisa. Aku hanya bisa memendam, memaki dalam hati.